Penyempitan makna dalam Bahasa Indonesia
Mungkin di antara kalian ada yang bingung antara Katak atau Kodok, Harimau atau Macan, Tupai atau Bajing, Merpati atau Dara, Itik atau Bebek serta Lebah atau Tawon? Saya akan jelaskan menurut sudut pandang kebahasaan.
Dalam Ilmu Biologi, khususnya Taksonomi, sepasang hewan di atas mengalami penyempitan makna, awalnya bermakna sama, kini diubah jadi makna yang berbeda.
Bahasa Indonesia sendiri berakar dari Bahasa Melayu dialek Riau, Bahasa Melayu dipilih karena sejak dahulu telah digunakan menjadi bahasa perdagangan di Nusantara, terlebih lagi, apabila yang dipilih adalah Bahasa Jawa atau Sunda, maka orang yang mempelajari akan kesulitan dengan tingkatan kosakata halus dan kasar.
Bahasa Indonesia yang berakar dari Bahasa Melayu juga menyerap banyak kosakata daerah, seperti Jawa, Sunda, Minang dan lain-lain, itu lah mengapa istilah sepasang hewan tersebut ada dalam KBBI.
Serapan Bahasa Jawa sangat mudah masuk KBBI dikarenakan kosakata itu juga digunakan dalam Masyarakat Betawi, yang di teori ada yang mengatakan gabungan dari beberapa suku bangsa, Melayu Sambas Kalimantan Barat, mungkin juga telah bercampur Jawa, Arab, China, dan lain-lain yang menetap di Jakarta dan membentuk komunitas.
Contoh kosakatanya yakni :
Ganteng, bener, kudu, pinggir, kangen, kali, kuping, bokong, pundak, dengkul, bolong, ambruk, rampung, bocah, cilik, gede, mangap, merem, melek, ngomong, ngerti, jempol, gelut, bakal, kayak, kumat, senggang, betah, nyemplung, enak, banget, kapan, pinter, kaget, butuh, Dan mungkin saja beberapa di antaranya juga digunakan Masyarakat Sunda.
Selain itu, peran Masyarakat Jawa sendiri yang sering melakukan code mixing, yakni ntah secara keceplosan atau tidak terfikirkan padanan kata dalam Bahasa Indonesia, akhirnya mereka mencampur Bahasa Indonesia dengan beberapa kosakata Jawa.
Orang Melayu, entah itu Melayu di Sumatera maupun Malaysia, menyebut
Frog: katak
Bee : lebah
Squirrel : tupai
Duck : itik
Tiger : harimau
Pigeon : merpati
Orang Jawa menyebut:
Frog : kodhok
Bee : tawon
Squirrel : bajing
Duck : bebek
Tiger : macan
Pigeon : dara
Orang Melayu dan Jawa akan menyebut masing" hewan seperti di atas, dan orang Melayu tidak menyebut istilah hewan dalam Bahasa Jawa tersebut dalam keseharian, orang Jawa pun begitu, tidak menyebut istilah hewan dalam Bahasa Melayu dalam kesehariannya.
Namun, orang-orang yang mempelajari Biologi, khususnya Taksonomi dan menganggap kedua hewan tersebut berbeda, tidak mengapa, namun juga jangan salahkan orang yang menganggap sepasang hewan tersebut sama, karena memang jauh sebelum Taksonomi menulis hal demikian, masyarakat telah menciptakan lebih dulu dan menggunakan istilah itu secara turun temurun.
Ingatkah dengan tokoh Sandy Cheeks? Dia tupai atau kah bajing? Jika ada yang menjawab tupai, itu tidak salah, karena dalam Bahasa Melayu tupai memang hewan pemakan biji-bijian. Meskipun dalam Taksonomi Indonesia "tupai" digunakan hanya untuk menyebut jenis pemakan serangga (treeshrew), yang berbeda family dengan squirrel.
Ada istilah madu tawon, karena tawon memang istilah lebah dalam Bahasa Jawa, cognate dengan nyawan dalam Bahasa Bali, sedangkan untuk jenis yang tidak menghasilkan madu, biasa disebut tawon endhas.
Orang-orang Jawa terdahulu, istilah macan lebih spesifik untuk tiger, ada pula merk makanan ringan kacang shanghay produksi Jawa Timur yang bertuliskan macan bergambar tiger. Dalam tim sepakbola Persija Jakarta pun istilah macan Kemayoran adalah untuk tiger. Shio tiger, disebut pula shio macan (meskipun saya tidak percaya shio).
Sedangkan leopard, bisa disebut macan tutul, tapi tidak bisa disebut macan saja. Bahasa Melayu dari leopard bahkan menggunakan kata harimau bintang. Itu menandakan bahwa:
Harimau : macan (tiger)
Harimau bintang : macan tutul (leopard)
Beda halnya dengan yang ada di Taksonomi Indonesia, macan hanya digunakan untuk leopard (macan tutul), black panther(macan kumbang), dan sejenisnya.
Sementara, katak dan kodok:
Taksonomi :
Frog : katak
Toad : kodok
Jawa:
Kodhok: frog & toad, kodhok dipakai untuk menyebut seluruh bangsa Anura, namun membedakan jenis-jenisnya setelah nama "kodhok", contohnya: kodhok bangkong, kodhok bencok, kodhok kintel, kodhok ijo, kodhok plenthus dan lain-lain.
Melayu:
Katak: frog & toad, sama seperti Bahasa Jawa, katak dipakai untuk menyebut semua jenis Anura, "kodhok bangkong" (Bahasa Jawa) disebut "katak puru" dalam Bahasa Melayu.
Kesimpulan: kalau dikaji menurut bahasa asli, sepasang hewan tersebut bermakna sama, yang membedakan adalah asal bahasa, Melayu dan Jawa, namun dalam Taksonomi, keduanya diubah menjadi jenis hewan berbeda.
Artikel yang saya tulis terlebih dahulu di Grup Facebook
Komentar
Posting Komentar